Selasa, 13 Januari 2009

KONSEP TUHAN DI DUNIA TASAWUF DAN KAJIANNYA DALAM AL-QUR’AN

PENDAHULUAN
Kita ketahui bahwasanya tanpa disadari terdapat segolongan dari kita (umat Islam) yang tak puas dengan pendekatan diri kepada Tuhan melalui ibadah seperti shalat, puasa, zakat, serta haji. Mereka ingin merasa lebih dekat lagi dengan Tuhannya, jalan untuk menuju hal tersebut biasanya kita sebut dengan istilah Al-Tasawwuf atau bisa lebih kita kenal dengan nama Sufisme. Istilah ini biasanya digambarkan sebagai suatu aliran mistisisme (sufisme) dalam dunia Islam.
Tujuan dari at-Tasawwuf atau Sufisme itu sendiri ialah memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhannya, sehingga disadari betul bahwa dirinya berada dalam hadirat Tuhannya. Sehingga intisari dari jalan ajaran ini adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dan Dzat Tuhan. Sehingga puncak dari kesadaran itu memberi bentuk rasa dekat sekali dengan Tuhan, dalam arti bersatu dengan Tuhan yang dalam istlah Arab biasa disebut dengan Ittihad, dalam istilah Barat Mystical Union. Bahkan bukan hanya itu lebih lanjutnya perasaan (emosi) mereka naik keatas lagi yang berakibat merasa adanya penjelmaan Tuhan dalam dirinya, yang dalam bahasa Arab disebut dengan Hulul dan dalam istilah jawa terkenal dengan nama Manunggaling Kaulo Gusti (suatu istilah yang diambil dari kisah syekh Siti Jenar) atau yang lebih populer lagi yaitu Wahdatul Wujud. Akan tetapi ada yang berpendapat bahwa ketiga istilah iyu berbeda.
Konsep-konsep inilah yang mengundang kontroversi dari berbagai kalangan sehingga muncul berbgai macam pendapat didalamnya. Dan karena hal ini pula pemakalah sangat tertarik untuk membahas dan mengkaji ulang permasalahan yang selalu hanya memandangnya dari satu sisi saja.

RUMUSAN MASALAH
Menurut apa yang dibahas dari pendahuluan di atas, maka pemakalah akan memberi batasan yang jelas dan tegas mengenai permasalahan yang hendak akan pemakalah bahas. Adapun di antaranya yaitu terkait dengan :
1. Definisi Atau Makna Dari Sufi Dan Tasawuf
2. konsep dan Ajaran Tasawuf Dalam Al-Qur’an
3. Konsep Aqidah Sufisme yang dianggap kontroversi.

PEMBAHASAN
A. Definisi serta Makna dari Tasawuf
Menurut etimonologi Tasawuf (تَصَوُّف) berasal dari kata Shafa' yang artinya kesucian, صُـوْفٌ yang artinya wol atau Bulu Domba, akan tetapi yang dimaksud bukanlah wol dalam konteks zaman sekarang, tetapi wol zaman dimana kain tersebut merupakan pakaian kasar yang dipakai oleh orang miskin di Timur Tenagah. Ada juga yang mengatakan dari kata تَصـَوُّف itu sendiri yang artinya berlebihan, diidentikkan dengan sikap berlebihan dalam beribadah, zuhud dan wara’ terhadap dunia. Pelakunya disebut Sufi (selanjutnya ditulis dengan Sufi, sebagaimana yang lazim dikatakan) (صُوْفِيٌّ), dan jamaknya adalah Sufiyyah (صُوْفِيّـَةٌ).
Sedangkan menurut terminologinya, tasawuf memiliki banyak definisi, hanya saja semua definisi tersebut mempunyai esensi dan tujuan yang sama. Salah satu definisi itu adalah yang dikatakan oleh Syekh Zakaria Al-Anshari ra . :
التصوف علم تعرف بـه أحـوال تزكيـة النفس وتصفيـة الأخـلاق وتعمير الظاهر والبــاطن لنيل السعـادة الأبديـة
"Tasawuf ialah disiplin ilmu yang bertujuan untuk mengetahui cara-cara mensucikan hati, memuliakan akhlaq serta memakmurkan zahir dan batin demi mencapai kebahagiaan yang abadi"
Dari definisi-definisi tasawuf di atas sudah nampak mencerminkan sekali akan adanya konsep kezuhudan ( keinginan untuk meninggalkan keduniawian), keikhlasan dan kesucian (hati) dalam menempuh kehidupan bagi para penganut ajaran tersebut.

B. Tasawuf Dalam Al-Qur’an
Mengutip dari pendpatnya Ignaz Goldziher dalam bukunya Madzahib Al-Tafsir Al-Islami bahwa tasawuf benar-benar bukanlah konsep (ide) yang bersifat Qur’ani . Ini tidak lain karena dilihat dari sejarah awal mulanya tasawuf, tidak ada literatur yang menyebutkan dalam sejarah bahwa ajaran tasawuf berasal murni bawaan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Ada yang berpendapat bahwa tasawuf merupakan kebiasaan Rahib-Rahib Kristen yang menjauhi dunia dan kesenamgan materil, ada pula yang menjelaskan bahwa ajaran ini timbul atas pengaruh dari ajaran Hindu. Disebut juga tasawuf berasal dari falsafah yunani kuno seperti Pyhtagoras dan Plotinus. Untuk nama terakhir ini ada yang mengatakan merupakan embrio tasawuf yang di bawa dalam dunia Islam .
Akan tetapi bagaimanapun Islam merupakan agama yang komplit yang telah membahas berbagai macam aspek kehidupan manusia, baik dunia maupun akhirat sehingga hal tersebut diatas tidak sepenuhnya dapat dikatakan benar. Seperti ajaran dasar mistisisme tentang faham bahwa Tuhan dekat dengan manusia terdapat dalam Al-Qur’an dan juga Ahaditsu Ar-Rosul. Seperti dalam surat Al-Baqoroh ayat 186, Allah berfirman:
                  
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (Al-Baqarah 186)
Dari ayat diatas sangat jelas sekali bahwasanya dalam Islam ada anjuran untuk selalu lebih mendekatkan diri pada Allah, lebih dari itu kata do’a dalam ayat tersebut menurut para sufi bukan berdo’a dalam arti yang lazim, akan tetapi mengandung arti berseru, memanggil. Tuhan mereka panggil, dan Tuhan memperlihatkan diri-Nya kepada mereka . Dan juga firman Allah:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya” (Qs. Qaaf 16)
Dan maih banyak lagi pelajaran-pelajaran ketsawufan yang terdapat dalam Al-Qur’an yang perlu kita gali lagi akan esensinya.

C. Akidah tasawuf yang dianggap Kontroversi.
a) Aqidah sufisme mengenai Allah:
Orang-orang tasawwuf percaya kepada Allah dengan aqidah-aqidah yang macam-macam di antaranya al-hulul (inkarnasi, penitisan/ penjelmaan Tuhan dalam diri manusia) seperti pendapat Al-Hallaj (menyebabkan ia memaklumkan dirinya sebagai "kebenaran" dengan ucapan "anal Haq" = Akulah Kebenaran. Al-Haq adalah salah satu nama Tuhan. Dengan perkataannya itu berarti ia mengaku: "Akulah Tuhan." ). Faham Hulul, faham yang menyatakan, bahwa Tuhan telah memilih tubuh-tubuh manusia tertentu sebagai tempat-Nya, setelah sifat-sifat kemanusiaan dalam tubuh tersebut dihilangkan. Faham Hulul dalam tasawwuf ditimbulkan oleh Husein Ibnu Manshur al-Hallaj (lahir di Persia tahun 858M) yang mengajarkan bahwa: Allah memiliki dua (2) sifat dasar (natur), yaitu sifat ke-Tuhan-an (lahuut) dan sifat kemanusiaan (Nasuut). Hal tersebut dilihat dari teori kejadian makhluk-Nya, sebagai berikut: Sebelum Tuhan menciptakan makhluk, Ia hanya melihat diriNya sendiri. Dalam kesendirian-Nya itu, terjadilah dialog antara Tuhan dengan diriNya.
Dialog yang dalam, tidak terdapat dalam kata-kata ataupun huruf-huruf. Yang dilihat Allah hanya kemuliaan dan ketinggianNya dan Allah pun cinta pada zatNya sendiri. Cinta yang tidak dapat disifatkan dan cinta inilah yang menjadi sebab wujud dan sebab dari yang banyak dan Ia-pun mengeluarkan dari yang tiada, bentuk (copy) diri-Nya, yang mempunyai segala sifat dan namaNya, danbentuk (copy) tersebut adalah Adam, dan seterusnya. Setelah Adam tercipta dengan cara-Nya, maka Ia sangat mencintai dan memulia¬kannya di syurga dan sebagai khalif di bumiNya.
b) Konsep Wahdatul Wujud
Membicarakan wahdatul wujud yang dalam bahasa jawa terkenal dengan istilah manunggaling kaulo gusti dalam teori sufi tidak lepas dari sejarah tasawuf itu sendiri. Gerakan tasawuf ini berjalan secara gradual. Ia petama kali muncul akibat dari sikap zuhud secara total yang berusaha untuk melepaskan diri dari kehidupan yang bersifat keduniawian, selanjutnya melalui pemikiran-pemikiranya tentang Tuhan para pelakunya (sufi) lantas sampai pada perasaan (emosi) yang berjalan naik keatas, sampai berujung pada perasaan rindu kepada Allah, sehingga menimbulkan cinta yang sangat mendalam kepada Allah.
Dari perasaan cinta yang sangat mendalam inilah timbul rasa memiliki dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari jiwanya, yang kemudian tenggelam dalam alam idealisme serta leburnya wujud diri yang bermuara pada hakikat Allah.
Kesatuan realitas (wahdat al-wujûd) adalah salah satu gagasan paling kontroversial dalam metafisika, khususnya metafisika mistik. Pemikiran ini dicetuskan oleh Ibn Arabi.
Akan tetapi, menurut Kautsar Azhari Noer, Ibnu Arabi sendiri, sebenarnya, secara formal tidak pernah menggunakan kata-kata wahdah al-wujûd dalam tulisan-tulisannya. Orang pertama yang menggunakan istilah ini, meski tidak sebagai istilah teknis dan independen, adalah Sadr al-Din al-Qunawi (w. 673/1274 M). Hanya saja, ajaran-ajaran Ibn Arabi tentang realitas bisa memberi pemaknaan ke arah itu.
Sehingga dalam tasawuf sendiri banyak sekali sekte–sekte bermunculan sebagaimana yang terdapat dalam thoriqoh dan ajarana-ajaran keagamaan lainnya dalam Islam. beberapa sekte tersebut antara lain :
 Al Isyraqi, sekte ini didominasi oleh ajaran filsafat bersama sifat zuhud. Yang dimaksud dengan Al Isyraqi (penyinaran) adalah penyinaran jiwa yang memancarkan cahaya dalam hati, sebagai hasil dari pembinaan jiwa dan penggemblengan ruh disertai dengan penyiksaan badan untuk membersihkan dan menyucikan ruh, yang ajaran ini sebenarnya ada pada semua sekte-sekte tasawuf, akan tetapi ajaran sekte ini cuma sebatas pada penyimpangan ini dan tidak sampai membawa mereka kepada ajaran Al Hulul (menitisnya Allah ‘azza wa jalla ke dalam diri makhluk-Nya) dan Wihdatul Wujud (bersatunya wujud Allah ‘azza wa jalla dengan wujud makhluk atau Manunggaling Kawulo Gusti. meskipun demikian ajaran sekte ini bertentangan dengan ajaran Islam, karena ajaran ini diambil dari ajaran agama-agama lain yang menyimpang, seperti agama Budha dan Hindu.
 Al Hulul, yang berkeyakinan bahwa Allah ‘azza wa jalla bisa bertempat atau menitis dalam diri manusia.. Keyakinan ini diserukan oleh beberapa tokoh-tokoh ekstrem ahli Tasawuf, seperti Hasan bin Manshur Al Hallaj, yang karenanya para Ulama memfatwakan kafirnya orang ini dan dia harus dihukum mati, yang kemudian dia dibunuh dan disalib –Alhamdulillah ‘azza wa jalla- pada tahun 309 H. Dan di dalam Sya’ir yang dinisbatkan kepadanya.
 Wihdatul Wujud itu sendiri, yaitu keyakinan bahwa semua yang ada pada hakikatnya adalah satu dan segala sesuatu yang kita lihat di alam semesta ini tidak lain merupakan perwujudan/penampakan Zat Ilahi (Allah ‘azza wa jalla) – maha suci Allah ‘azza wa jalla dari segala keyakinan kotor mereka-. Dedengkot sekte ini adalah Ibnu ‘Arabi Al Hatimi Ath Thai (Nama lengkapnya adalah Abu Bakr Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad Ath Thai Al Hatimi Al Mursi Ibnu ‘Arabi, yang binasa pada tahun 638 H dan dikuburkan di Damaskus.
c) Aqidah Sufi Mengenai Rasulullah SAW
Sufisme dalam hal mempercayai Rasulullah juga ada bermacam-macam aqidah. Di antaranya ada yang menganggap bahwa Rasul SAW tidak sampai pada derajat dan keadaan mereka (orang-orang sufi). Dan Nabi SAW (dianggap) jahil (bodoh) terhadap ilmu tokoh-tokoh tasawwuf seperti perkataan Busthami: "Kami telah masuk lautan, sedang para nabi berdiri di tepinya."
Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, pengarang kitab Ila at-Tashawwuf ya 'Ibadallaah menisbatkan perkataan tersebut kepada At-Tijani (pendiri tarekat At-Tijaniyah). Lalu Al-Jazairi berkomentar: kelanjutan ucapan At-Tijani ini bahwa quthub-quthub (wali-wali yang ada di kutub-kutub dunia) sufi itu menurut pendapat mereka lebih tahu dibanding Nabi-nabi tentang Allah dan lebih mengerti tentang syari'atNya yang mengandung kecintaan dan kemarahan.
Bukankah (kepercayaan) ini merupakan kekafiran wahai hamba-hamba Allah? komentar Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Khatib Masjid Nabawi Madinah. Di antara mereka (orang-orang sufi) ada yang mempercayai bahwa Rasul Muhammad itu adalah kubah alam, dan dia itulah Allah yang bersemayam di atas Arsy, sedangkan langit-langit, bumi, arsy, kursi, dan semua alam itu dijadikan dari nurnya (nur Muhammad), dan dialah awal kejadian, yaitu yang bersemayam di atas Arasy Allah. Inilah aqidah Ibnu Arabi dan orang-orang yang datang setelahnya atau pengikutna.
d) Aqidah Sufi Mengenai Wali-wali.
Sufisme dalam hal wali-wali juga mempercayai dengan keper¬cayaan yang bermacam-macam. Di antara mereka ada yang melebihkan wali di atas nabi. Pada umumnya orang sufi menjadikan wali itu menyamai/sejajar dengan Allah dalam segala sifatnya, maka ia (wali) itu mencipta, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur alam. Orang sufi membagi-bagi wali menjadi beberapa bagian, ada yang disebut wali Al-Ghauts yang mempunyai kemauan sendiri dalam segala sesuatu di dunia ini, dan ada 4 Wali Kutub yang memegangi pojok-pojok yang empat di dunia ini atas perintah wali Al-Ghauts. Dan ada wali Abdal yang tujuh, masing-masing mempunyai kekuasaan di satu benua dari 7 benua atas perintah wali Al-Ghauts. Dan ada wali Nujaba', yang mereka itu memiliki kekuasaan di kota-kota setiap wilayah di kota. Di kota-kota, demikianlah seterusnya, maka jaringan wali-wali internasional ini menguasai makhluk, dan mereka punya dewan tempat mereka berkumpul yaitu di Gua Hira', setiap malam mereka melihat taqdir. Cekak aosnya (pendek kata), dunia perwalian (sufi) itu adalah dunia khurafat (kepercayaan yang menyeleweng dari kemurnian Islam) total.
Ini otomatis berbeda dengan kewalian dalam Islam yang ditegak¬kan di atas agama dan taqwa, amal shaleh dan ibadah yang sempurna kepada Allah, dan membutuhkan (pertolongan) Allah. Sebenarnya wali itu tidak bisa menguasai urusan dirinya sendiri (untuk mendatangkan manfaat dan madharat) sedikitpun, lebih-lebih untuk menguasai orang lain. Allah Ta'ala berfirman:


        
"Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan." (QS Al-Jinn : 21)
Sebagian cerita yang dikisahkan orang-orang sufi memang terjadi, namun bercampur dengan sihir, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dalam bukunya yang berjudul Al-Furqan baina Auliya'ir Rahman wa Auliya'is syaithan (perbedaan antara wali-wali Tuhan dan wali-wali syetan). Buku itu muncul waktu orang-orang mencampuradukkan antara sihir dan karamah. Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa sebagian orang musyrik, baik dari Bangsa Arab, India, Turki, Yunani, maupun bangsa lain, mempunyai kegigihan dalam bidang ilmu, kezuhudan, dan ibadah; namun mereka tidak mengikuti dan tidak beriman kepada para Rasul, tidak membe¬narkan berita-berita yang Rasul bawa, dan tidak mentaati perin¬tahnya. Orang-orang seperti itu bukanlah orang-orang yang beriman, dan bukan pula wali-wali Allah. Mereka adalah orang-orang yang dihubungi dan dihampiri oleh syetan-syetan. Mereka dapat mengungkapkan beberapa perkara ghaib, mereka memiliki beberapa perilaku luar biasa yang merupakan bagian dari sihir. Mereka itu tukang sihir yang dihampiri syetan-syetan. Allah Ta'ala berfirman:
    •   •          
"Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syetan-syetan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa. Mereka menghadapkan pendengaran (kepada syetan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta." (QS. As-Syu'ara: 221-223).
Mereka bersandar kepada Mukasyafat (penyingkapan perkara- perkara yang ghaib) dan hal-hal yang luar biasa. Apabila mereka tidak mengikuti Rasul, tentu amalan-amalan mereka mengandung dosa seperti kemusyrikan, kedzaliman, kekejian, sikap berlebihan, atau bid'ah dalam ibadah. Mereka dihampiri dan didatangi syetan-syetan, sehingga mereka menjadi wali-wali syetan, bukan wali-wali Ar-Rahman (Tuhan). Allah Ta'ala berfirman:
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Allah) Yang Maha Pemurah (Al-Quran), kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan), dan syetan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya." (Az-Zukhruf/ 43:36).
Pengajaran Allah (Dzikrur Rahman) adalah pengajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya saw, yakni al-Quran. Barangsiapa tidak beriman kepada Al-Quran, tidak membenarkan beritanya, dan tidak meyakini kewajiban perintahnya, berarti dia telah berpaling dari Al-Quran, kemudian syetan datang menjadi teman setia baginya.
Seseorang yang selalu berdzikir kepada Allah, baik malam maupun siang, disertai dengan puncak kezuhudan dan kesungguhan beribadah kepada-Nya, namun tidak mengikuti dzikir yang Allah turunkan, yakni Al-Quran, maka dia termasuk wali syetan, meskipun dia mampu terbang di angkasa atau berjalan di atas air. Syetanlah yang membawanya ke angkasa sehingga ia mampu terbang .
Sedangkan wali Allah menurut Al-Quran tidak seperti yang digambarkan oleh orang tasawwuf. Tetapi wali Allah yaitu orang-orang yang beriman dan bertaqwa, seperti yang ditegaskan Allah SWT dalam firmanNya :


"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akherat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (QS Yunus: 62, 63, 64).
Dimaksudkan dengan wali-wali Allah dalam ayat ini ialah orang-orang mukmin dan mereka selalu bertaqwa, sebagai sebutan bagi orang-orang yang membela agama Allah, dan orang-orang yang menegakkan hukum-hukumNya di tengah-tengah masyarakat, dan seba¬gai lawan kata dari orang-orang yang memusuhi agamaNya, seperti orang-orang musyrikin dan orang kafir .
Dikatakan tidak ada kekhawatiran bagi mereka, karena mereka yakin bahwa janji Allah pasti akan datang, dan pertolonganNya tentu akan tiba, serta petunjukNya tentu membimbing mereka ke jalan yang lurus. Dan apabila ada bencana menimpa mereka, mereka tetap bersabar menghadapi dan mengatasinya dengan penuh ketabahan dan tawakkal kepada Allah .
Dan tidak pula gundah hati, karena mereka telah meyakini dan rela bahwa segala sesuatu yang bersangkut paut dengan alam dan seluruh isinya tunduk dan patuh di bawah hukum-hukum Allah dan berada dalam genggamanNya. Mereka tidak gundah hati lantaran berpisah dengan dunia, karena kenikmatan yang akan diterima di akherat adalah kenikmatan yang lebih besar. Dan mereka takut akan menerima adzab Allah di hari pembalasan, karena mereka dan seluruh hatinya telah dibaktikan kepada agama menurut petunjukNya. Mereka tidak merasa kehilangan sesuatu apapun, karena telah mendapatkan petunjuk yang tak ternilai besarnya .
Kemudian daripada itu Allah SWT menjelaskan siapa yang dimaksud dengan wali-wali Allah yang berbahagia itu, dan apakah sebabnya mereka itu demikian. Penjelasan yang didapat di dalam ayat ini; wali itu ialah orang-orang yang beriman dan selalu bertaqwa. Dimaksud beriman di sini ialah orang yang beriman kepada Allah, kepada malaikatNya, kepada kitab-kitabNya, kepada Rasul-rasul-Nya, dan kepada hari qiyamat, dan segala kepastian yang baik dan yang buruk semuanya dari Allah, serta melaksanakan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Sedang yang dimaksud dengan bertaqwa ialah memelihara diri dari segala tindakan yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah, baik hukum-hukum Allah yang mengatur tata alam semesta, ataupun hukum syara' yang mengatur tata hidup manusia di dunia .
Sesudah itu Allah SWT menjelaskan bahwa mereka mendapat kabar gembira, yang mereka dapati di dalam kehidupan mereka di dunia dan kehidupan mereka di akherat. Khabar gembira yang mereka dapati ini, ialah khabar gembira yang telah dijanjikan Allah melalui Rasul-Nya. Khabar gembira yang mereka dapatkan di dunia seperti kemenangan yang mereka peroleh di dalam menegakkan kali¬mat Allah, kesuksesan hidup lantaran menempuh jalan yang benar, harapan yang diperoleh sebagai khalifah di dunia, selama mereka tetap berpegang kepada hukum Allah dan membela kebenaran agama Allah akan mendapat husnul khatimah. Adapun khabar gembira yang akan mereka dapati di akherat yaitu selamat dari kubur, dari sentuhan api neraka dan kekalnya mereka di surga 'Adn .
Ada orang yang mengatakan, bahwa wali Allah itu orang keramat, dapat mengerjakan perkara-perkara yang ajaib dan aneh, seperti berjalan di atas air, dapat menerka yang dalam hati orang dan sebagainya. Maka yang demikian itu, bukanlah menurut istilah Al-Quran, melainkan menurut istilah orang tasauf. Bahkan ada juga yang disebut wali Allah, orang yang kurang akalnya, dan ganjil perbuatannya.
Jelaslah bedanya, antara wali Allah menurut Al-Quran, dan wali Allah menurut orang tasawwuf atau sufi. Orang yang kurang akalnya dan ganjil perbuatannya pun disebut wali, itu jelas di luar ajaran Al-Quran. Mafhum mukhalafahnya (pengertian tersiratnya), ketika orang-orang justru mengangkat-angkat orang model terakhir itu sebagai wali dan dihormati, bahkan dijadikan pemimpin yang menentukan urusan orang banyak, boleh diduga keras bahwa orang-orang itu memang telah lari dari Al-Quran. Dan itulah sebenarnya bencana bagi ummat Islam. Namun anehnya, di khutbah-khutbah Jum'at atau di pengajian pun diserukan oleh para khatib yang model itu untuk bersyukur kepada Allah SWT atas telah dipilihnya orang yang mereka anggap wali padahal sebenarnya sama sekali bukan itu.
e) Aqidah Sufi Mengenai Surga dan Neraka
Mayoritas orang sufi (menurut Abdur Rahman Abdul Khaliq, semuanya) berkeyakinan bahwa menuntut surga merupakan suatu aib besar. Seorang wali tidak boleh menuntutnya (mencari surga) dan barangsiapa menuntutnya, dia telah berbuat aib. Menurut mereka, yang patut dituntut adalah al-fana' (menghancurkan diri dalam proses untuk menyatu dengan Allah SWT) yang mereka klaim (dakwakan) terhadap Allah, dan melihat keghaiban, dan mengatur alam... Inilah surga orang sufi yang mereka klaim.
Adapun mengenai neraka, orang-orang sufi berkeyakinan juga bahwa lari darinya itu tidak layak bagi orang sufi yang sempurna. Karena takut terhadap neraka itu watak budak dan bukan orang-orang merdeka. Di antara mereka ada yang berbangga diri bahwa seandainya ia meludah ke neraka pasti memadamkan neraka, seperti kata Abu Yazid al-Busthami (Parsi, w. 261H/ 874M). Dan orang sufi yang berkeyakina dengan Wahdatul Wujud (menyatu dengan Tuhan), di antara mereka ada yang mempercayai bahwa orang-orang yang memasuki neraka akan merasakan kesegaran dan keni'matannya, tidak kurang dari keni'matan surga, bahkan lebih. Inilah pendapat Ibnu Arabi dan aqidahnya
Aqidah mengenai surga (model sufi) ini, sering dianggap sebagai aqidah yang tinggi, yaitu manusia menyembah Allah tidak mengharapkan surga dan tidak takut neraka. Inisangat bertentangan sekali dengan yang terdapat di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Allah telah mensifati keadaan para nabi dalam ibadah mereka bahwa:

Mereka berdo'a kepada Kami dengan harap (roghoban) dan takut (rohaban). Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu'." (QS Al-Anbiyaa': 90).
Ar-roghob yaitu mengharapkan surga Allah dan keutamaanNya, sedang ar-rohab yaitu takut dari siksaNya, padahal para nabi itu mereka adalah sesempurna-sempurnanya manusia (segi) aqidahnya, keimanannya, dan keadaannya. Dan (landasan) dari As-Sunnah: Perkataan seorang Arab Badui kepada Nabi SAW:
"Wallahi, sungguh aku tidak bisa mencontoh dengan baik bacaan lirihmu (dandanik --suara tak terdengarmu) dan bacaan lirih Mu'adz. Namun hanya aku katakan, "Ya Allah, aku mohon surga kepadaMu, dan berlindung kepadaMu dari neraka." Lalu Rasulullah saw berkata: "Sekitar itu juga bacaan lirih kami." (Hadits Riwayat Ibnu Majah).
Keadaan yang diupayakan oleh orang-orang sufi untuk diwujudkan yaitu beribadah kepada Allah tanpa mengharapkan (surga) dan tanpa merasa takut (neraka), maka menyeret mereka kepada bencana. Mereka berusaha kepada tujuan yang lain dengan ibadah yaitu yang disebut fana' (meleburkan diri) dengan Tuhan, dan ini menyeret mereka kepada al-jadzdzab (merasa melekat dengan Tuhan), kemud¬ian menyeret mereka pula kepada al-hulul (inkarnasi/penjelmaan Tuhan dalam diri manusia), kemudian menyeret mereka pula pada puncaknya kepada wihdatul wujud (menyatunya Tuhan dengan hamba atau manunggaling kawula Gusti) . Wallahu ‘alam




KESIMPULAN
Pemikiran tasawuf dari zaman ke zaman selalu menimbulkan suatu kontroversi, terlebih pemikiran tentang kesatuan realitas (wahdat al-wujûd) yang bermula dari gagasan orisinal Ibnu Arabi. Meski dasar-dasar gagasan ini diambil dari pemikiran ittihâd (penyatuan manusia dengan Tuhan) al-Hallaj (858-913 M), tetapi ia berbeda dengannya. Dalam teori al-Hallaj, persoalan yang ditekankan hanya hubungan antara Tuhan (al-Lâhût) dan manusia (al-Nâsût), bahwa sifat kemanusiaan hadir pada Tuhan dan sifat ketuhanan hadir hanya pada manusia, tidak pada yang lain; dalam teori Ibn Arabi menjadi lebih luas, yakni hubungan antara Tuhan (al-Haqq) dan semesta (al-Khalq).
Dan ini merupakan sebagian konsep yang muncul dari ajaran tasawuf, yang sangat memungkinkan juga bermunculan konsep-konsep lain yang lebih memerahkan telinga-telinga ulama diluar sufisme, mengingat ajaran ini dilandasi atas dasar perasaan dan olah rasa jiwa.
Perlu kita ketahui bahwasanya Al-Qur’an itu sendiri memberikan banyak porsi dalam perkembangan dan timbulnya aliran tasawuf yang sedemikian rupa timbul dikalangan umat Islam, sehingga tidak bisa dikatakan secara sepihak bahwa ajaran tasawuf itu sesat sebagaimana konsep Ibnu Arabi, Al-Hallaj bahkan Syekh Siti Jenar. Wallah hu ‘alam.

PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami sampaikan, dan kami sangat menyadari akan kesalahan serta kekurangan kami yang disebabkan akan banyak hal, sehingga kritik dan saran yang membangun akan kelengkapan dan kesempurnaan makalah ini begitu kami harapkan. Semoga makalah yang kecil ini dapat bermanfaat bagi kami serta para pembaca budiman, amin......


DAFTAR BACAAN
Azhari Noer, Ibn Arabi Wahdat Al-Wujud dalam Perdebatan, Jakarta, Paramadina, 1995
Departemen Agama Republik Indonesia, Al Qur'an dan Terjemahannya, Jakarta, Yayasan Penyelenggara dan Penterjemah Tafsir Al Qur'an, Bulan Bintang, 2001.
------------------------------, Al-Quran dan Tafsirnya, Jakarta, Yayasan Penyelenggara dan Penterjemah Tafsir Al Qur'an, Bulan Bintang, 2001.
Hadiwiyono, Harun ,Kebatinan Islam Abad XVI. Jakarta: Gunung Mulia, 1985
Goldziher, Ignaz Mazhab Tafsir Dari Aliran Kelasik Hingga Moderen, Alih Bahasa Jogjakarta : elSAQ Prees. 2006
Makalah Syaiful Mujab, Kritik Atas Konsep Ibnu Arabi Tentang wahdatul wujud, program pasca sarjana IAIN Walisongo,2008.
Nasution, Harun, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspek, Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia, 2002 jilid. II
Shodiq, Kamus Istilah Agama, Jakarta: CV Sienttarama, cetakan II, 1988.
Sholikhin, KH. Muhammad, Manunggaling Kawula Gusti. Jakarta: PT. Buku Kita. 2008.
Taimiyah, Ibnu, Mewaspadai Tasawuf, Alih Bahasa, Bekasi: Wala Press, Cet I, 1416H/ 1995
Yunus, Mahmud, Tafsir Quran Karim, Jakarta : PT Hidakarya Agung, cetakan ke-27, 1988M/ 1409
www. Muwlim.or.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar